Rabu, 10 Agustus 2016

[Book Review] Botchan - Natsume Soseki


Judul: Botchan
Penulis: Natsume Soseki
Penerjemah: Indah Sati Pratidina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  217 Halaman
ISBN: 978-602-03-3167-6
Sinopsis: Seperti cerita The Adventures of Huckleberry Finn, Botchan mengisahkan pemberontakan seorang guru muda terhadap "sistem" di sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang selalu terus terang dan tidak mau berpura-pura sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Cerita yang dituturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang, dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang modern.
***
Botchan dalam bahasa Jepang bisa dikatakan bermakna "tuan muda", panggilan sopan yang ditujukan untuk anak laki-laki ketika ia masih kanak-kanak yang berasal dari keluarga terpandang. Dalam halaman pengenalan di buku ini telah dijelaskan bahwa kata Botchan di buku ini tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain karena kandungan makna di dalamnya. Maka judul buku ini tetaplah menggunakan judul aslinya dalam bahasa Jepang, Botchan.
Botchan dalam kisah ini adalah seorang anak laki-laki dari keluarga yang cukup terpandang. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya juga laki-laki. Di rumahnya juga tinggal seorang pengasuh sekaligus pembantu rumah tangga bernama Kiyo. Kiyo-lah yang selalu memanggil Botchan dengan sebutan Botchan. Kiyo sangat menyayangi Botchan, selalu mendukung Botchan dan selalu berpikir positif tentang Botchan. Meskipun Botchan menurut kebanyakan orang terlalu nakal untuk ukuran anak-anak. Sejak kecil Botchan memang merupakan anak yang selalu melakukan apa yang dia inginkan, dia selalu mau mencoba hal baru, selalu penasaran dan terkadang bertindak semaunya. Hal inilah yang menyebabkan dia dicap nakal oleh orang-orang di sekitarnya, tak terkecuali oleh kakak dan orang tuanya. Ibu Botchan meninggal ketika Botchan masih di sekolah dasar. Sejak itu Ayahnya semakin tidak mempedulikan Botchan dan akhirnya meninggal ketika Botchan remaja. Tinggalah Botchan bersama kakaknya dan Kiyo. Kakak Botchan mendapat tawaran untuk bekerja di luar kota dan menjual rumah mereka. Uang hasil penjualan rumah dibagi dengan Botchan. Botchan menggunakan uang tersebut untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah Ilmu Alam Tokyo.
Singkat cerita, luluslah Botchan dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo dan mendapat tawaran bekerja menjadi guru matematika di sebuah sekolah menengah di Shikoku dengan gaji 40 yen sebulan. Meskipun sebelumnya Botchan tida punya bayangan akan menjadi guru apalagi mengajar di daerah pedesaan namun pekerjaan tersebut tetap saja ia terima. Jadi berangkatlah ia menju Shikoku yang harus ditempuh dengan menyebrangi lautan dari Tokyo. Di sinilah episode baru kehidupan Botchan dimulai. Ia bertemu kepala sekolah dan para guru yang masing-masing memiliki karakteristik yang bagi Botchan mengganggu. Kebanyakan dari mereka bukanlah orang yang tulus, bertopeng dan penuh intrik. Belum lagi para siswanya yang kelewat nakal, dan dibiarkan saja oleh para guru, apalagi kepala sekolah. Mereka menggunakan lelucon yang menjengkelkan untuk mengolok Botchan (sebagai guru baru). Seperti yang Botchan katakana di halaman 53 “ lelucon adalah lelucon, namun kalau berlarut-lart hasilnya kenakalan”. Botchan juga mengatakan bahwa “ia juga pernah melakukan kejailan saat di sekolah menengah, tapi ketika para guru bertanya siapa yang bertanggung jawab, selayaknya lelaki aku selalu mengakuinya. Kalau kau melakukan sesuatu, kaulah si pelaku; kalau kau tidak melakukannya, berarti kau bukan pelaku. Sesederhana itu” (hal. 66). Hal ini dikatakan Botchan ketika para siswa melakukan kejailan terhadap dirinya tetapi tak satupun dari siswa yang mau mengaku, padahal dengan jelas pelakunya adalah mereka. Inilah yang saya suka dari Botchan, ia selalu jujur dan gentleman. Hanya Kiyolah yang menyadari sifat Botchan ini.
Sifat Botchan yang jujur, selalu berterus terang dan tidak mau berpura-pura ini ternyata tidaklah disukai oleh beberapa rekan kerjanya sesama guru dan kepala sekolah. Botchan ingin dikendalikan oleh rekan kerjanya yang memang tidak mau terganggu oleh kehadiran Botchan yang menentang sistem sekolah yang penuh kecurangan. Saling sikut dan saling menjebak di lingkungan sekolah terjadi. Ini adalah hal yang tidak bisa diterima Bochan. Sebuah sekolah seharusnya menjadi tempat untuk menghasilkan manusia yang semakin baik, semakin bijaksana dan semakin saling menghargai. Selain sibuk menghadapi sekolah yang carut marut, Botchan juga harus menahan rasa rindunya kepada Kiyo, perempuan yang selama ini mengasuhnya. Botchan baru menyadari bahwa betapa ia membutuhkan dan merindukan Kiyo setelah jauh darinya.
Banyak pelajaran dari buku ini yang disampaikan melalui tokoh Botchan. Bahwa jadi orang itu harus jujur, kalau tidak jujur lalu apalagi yang harus dilakukan. Gentleman dalam mengakui kesalahan, tidak bersikap korup dan berintegritas tinggi. Kalimat-kalimat sarkas yang penuh humor menjadi kekuatan cerita ini. Penuh makna dan menghibur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar